Review Ghost of Tsushima Director’s Cut: Konten Ekstra Lima Jam di Pulau Iki

Review Ghost of Tsushima Director’s Cut: Konten Ekstra Lima Jam di Pulau Iki

Ghost of Tsushima: Director’s Cut, yang rilis pada pertengahan Agustus lalu, adalah rilisan terbaru PlayStation Studios yang mencoba memperbarui dan melengkapi versi awal Ghost of Tsushima. Pembaharuan disampaikan lewat penambahan fitur yang mayoritas hanya bisa dinikmati oleh pemilik console PlayStation 5 (PS5). Sementara itu, pelengkapan cerita disampaikan lewat side-story yang mengambil lokasi di Ikishima, pulau kecil di tenggara Tsushima.

Dari kedua hal tersebut, side-story di Ikishima jelas jualan utama Ghost of Tsushima: Director’s Cut. Seperti kebanyakan produk budaya populer yang memiliki label Director’s Cut, kisah di Ikishima bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih lengkap soal kisah Ghost of Tsushima. Informasi tersebut tentu tidak bisa bersifat wajib, namun memberikan nilai tambah jika dimainkan.

Setting waktu Ikishima bergantung pada seberapa jauh gamer sudah memainkan kisah utama Ghost of Tsushima. Jika gamer sudah lebih dulu menamatkan versi awal Ghost of Tsushima, maka sejumlah dialog atau petunjuk akan mengarah pada kisah Ikishima mengambil waktu setelah kejatuhan Khotun Khan. Khotun Khan, sepupu dari Kubilai Khan dan cucu dari Genghis Khan, adalah antagonis utama kisah Ghost of Tsushima.

Sementara itu, jika gamer belum menamatkan versi awal, maka dialog akan menekankan pada masih berlangsungnya invasi Mongol di Tsushima. Walau begitu, gamer harus mencapai titik Toyotama di kisah utama Ghost of Tsushima dulu sebelum bisa mengakses Iki.

1234 Selanjutnya

Side-story Ikishima (Iki) dimulai ketika tokoh utama Ghost of Tsushima, Jin Sakai, mendapat kabar bahwa invasi Mongol telah mencapai Iki. Di sana, invasi dipimpin oleh seorang shaman (dukun) dengan nama sandi The Eagle. Mengingat Iki begitu dekat dengan daratan utama Jepang, Jin harus mencegahnya untuk memastikan Mongol tidak melakukan penetrasi lebih jauh ke jantung negeri matahari.

Iki sendiri, bagi Jin Sakai, memiliki catatan tersendiri. Ayahnya, Kazumasa Sakai, tewas di sana. Dalam invasi samurai ke Ikishima belasan tahun silam, para nelayan Iki berhasil memukul mundur pasukan ayah Jin. Adapun Kazumasa mati tepat di depan mata Jin dan ia terus menyalahkan dirinya karena gagal menyelamatkan sang ayah.

Perjalanan Jin ke Iki tidak sepenuhnya lancar. Kapalnya dihajar badai, memisahkan ia dari kuda tunggangannya. Sesampainya di Iki, ia kalah dikeroyok pasukan Mongol yang kemudian membawanya ke The Eagle. The Eagle, tahu Jin adalah anak Kazumasa, memutuskan untuk menerornya secara psikologis dengan memberinya ramuan hipnotis. Ramuan itu akan membawa Jin ke masa-masa traumatis dalam hidupnya, mengulangnya berkali-kali agar ia kehilangan semangat hidup.

Side-story Ikishima akan berfokus pada perjalanan Jin berdamai dengan masa lalunya. Dengan kata lain, side-story Ikishima adalah sebuah studi karakter, dekonstruksi dari karakter Jin Sakai. Gamer bakal melihat apa saja yang membentuk karakter Jin Sakai sebagai samurai (dan kemudian ninja). Tidak semuanya positif. Jin lahir dari keluarga berdarah dingin dan ada banyak tubuh bergelimpingan atas ulah klannya. Gamer bakal melihat konflik antara Jin dengan nelayan-nelayan pulau Iki.

Sebelumnya 1234 Selanjutnya

Dengan durasi permainan selama kurang lebih lima jam, side-story Ikishima menawarkan banyak hal selain cerita. Gamer bakal menemukan quest-quest baru untuk mendapatkan armor baru, baik untuk Jin ataupun tunggangannya. Mini game pun kian banyak mulai dari tantangan panahan, tantangan duel menggunakan bokken (pedang kayu), hingga game ritmik menggunakan seruling Jin.

Dari ketiga mini game itu, duel dengan bokken adalah yang paling seru. Gamer akan berhadapan dengan jawara-jawara Iki dan harus bisa menyentuh mereka dengan bokken sebanyak lima kali. Mereka yang mencapai lima poin lebih dulu adalah yang menang. Sulitnya, jawara-jawara tersebut pintar di mana mereka akan mengubah gaya menyerang dan bertahan sepanjang duel. Duel dengan para samurai di game versi sebelumnya tidak ada apa-apanya dibanding mini game baru ini.

Pengembang Ghost of Tsushima, Sucker Punch, tidak lupa meningkatkan kualitas pasukan Mongol yang bakal gamer hadapi. Sekarang mereka lebih sulit, lebih agresif, dan mendapat pertahanan tambahan dari shaman yang menyanyikan mantra sepanjang pertarungan. Walhasil, pertahanan yang sebelumnya gampang ditembus dengan beberapa kali serangan atau balasan sempurna menjadi lebih sulit dijebol. Shaman itu sendiri, dalam satu pertempuran, bisa lebih dari satu.

Nah, karena musuh-musuh di Ikishima lebih sulit, pengembang Sucker Punch bakal memberikan warning kepada gamer ketika ingin mengakses side-story Ikishima. Dengan begitu, gamer tidak akan kaget jika terus kalah dan tidak bisa kembali ke Tsushima untuk grinding. Sebaiknya, pisahkan save side-story Ikishima dengan main-story di Tsushima.

Sebelumnya 1234 Selanjutnya

Khusus pemilik PlayStation 5, bakal mendapat fitur tambahan yang memanfaatkan kecanggihan console. Salah satunya adalah upgrade performance di mana Ghost of Tsushima: Director’s Cut bisa dijalankan dengan kecepatan 60fps untuk gameplay yang lebih mulus. Fitur tersebut juga bisa diakses untuk versi awal Ghost of Tsushima.

Selain upgrade performance, gamer juga mendapatkan fitur yang memaksimalkan teknologi stik DualSense 5. Sekarang, setiap tarikan busur bakal memberikan sensasi resistensi di tangan, seolah-olah tengah menarik busur sungguhan. Selain itu, setiap langkah Jin bakal memberikan sensasi ketukan di tangan di mana keras atau lembutnya bakal bergantung pada permukaan yang dilewati. Fitur yang gimmicky, namun punya nilai ekstra tersendiri.

Terakhir, Ghost of Tsushima: Director’s Cut di PS5 memperbaiki lip sync antara dialog Jepang dengan pergerakan mulut karakter-karakter yang ada. Pada versi sebelumnya, pergerakan mulut dengan dialog Jepang tidak pas karena pengembang Sucker Punch hanya menyesuaikan pergerakan mulut dengan dialog Inggris. Bagi gamer yang memperhatikan detil-detil kecil, perbaikan ini penting.

Dengan segala kelebihannya, Ghost of Tsushima: Director’s Cut adalah versi definitif dari salah stau kandidat Game of The Year 2020 itu. Memang, ekstra kontennya hanya berdurasi kurang lebih lima jam dan kebanyakan fitur-fitur barunya lebih bersifat gimmick. Namun, bagi kami, lima jam ekstra lebih dari cukup untuk menikmati kembali dunia Ghost of Tsushima yang keindahannya sungguh surgawi itu.

Problem dari Ghost of Tsushima: Director’s Cut lebih pada pricing dan upgrade ke versi terbaru jika sudah memiliki versi awal. Untuk konten ekstra lima jam, gamer harus merogoh kocek ratusan ribu. Di console PS5, upgrade ke versi Director’s Cut dihargai Rp439 ribu. Sementara itu, di console PS4, upgrade ke versi Director’s Cut dihargai Rp289 ribu. Bukan harga yang murah untuk ekstra konten yang didapat di Ghost of Tsushima: Director’s Cut.

Catatan redaksi: Game ini di-review dengan copy game yang kami dapatkan dari PlayStation Studios.

Ragil UtamiTidak ada yang baru di bawah matahari. Semuanya sudah dilakukan sebelumnya.

Posting Komentar untuk "Review Ghost of Tsushima Director’s Cut: Konten Ekstra Lima Jam di Pulau Iki"

Silakan tinggalkan komentar. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *